Definisi Islam
بسم
الله الرحمن الرحيم
Apabila
ada yang bertanya: “Apakah definisi Islam itu?”
Maka jawabannya adalah: “Islam adalah berserah diri kepada Allah ta’ala dengan bertauhid, menundukkan diri kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan membebaskan diri dari kesyirikan.”
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
Maka jawabannya adalah: “Islam adalah berserah diri kepada Allah ta’ala dengan bertauhid, menundukkan diri kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan membebaskan diri dari kesyirikan.”
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
فَإِلَهُكُمْ
إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
“Ilah (Tuhan) kalian adalah Ilah yang esa, maka hanya kepada-Nya lah kalian menyerahkan diri, dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).” [QS Al Hajj: 34]
Dalil lainnya adalah firman Allah ta’ala:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar
takwa, dan janganlah kalian meninggal melainkan kalian berada dalam keadaan
memeluk agama Islam.”
[QS Alu Imran: 102]
والحمد
لله رب العالمين
Sumber: Disadur
dengan perubahan seperlunya dari kitab Al Mabadi`ul Mufidah karya Syaikh Yahya
bin Ali Al Hajuri hafizhahullah.
- See more at:
http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2012/02/definisi-islam.html#sthash.4T5WgJdt.dpuf
Apa Itu Tauhid?
Bismillah..
Sering kita mendengar, seseorang mengucapkan “tauhid”, “jadilah
seorang yang bertauhid”, “mari menegakkan tauhid”, “orang yang tidak bertauhid
maka akan kekal di neraka.” dan kalimat-kalimat lain.
Namun tahukah kita apa makna tauhid itu? Bagaimana seseorang bisa
dikatakan telah bertauhid. Jawabannya -insya Allah- antum temukan dalam
pembahasan kali ini..
TAUHID:
Tinjauan secara makna bahasa: menyatukan, menyendirikan,
mengesakan.
Tinjauan secara syariat: mengkhususkan Allah –سبحانه
و تعالى-,
pada hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, baik dalam Rububiyah-Nya,
Uluhiyah-Nya, maupun nama dan sifat-Nya.
Sehingga bila seseorang itu dikatakan bertauhid, maka artinya
adalah dia mentauhidkan Allah dalam tiga perkara:
PERTAMA:
Tauhid Rububiyah, yakni dia mengimani bahwa Allah satu-satunya yang bersendirian
dalam perbuatan-Nya; kita harus meyakini bahwa Allah satu-satunya yang
mencipta, meyakini bahwa Allah satu-satunya yang menghidupkan dan mematikan,
yang memberi rezeki, yang memberikan manfaat kepada manusia atau menurunkan
musibah kepada manusia, yang melindungi manusia. Ini semua adalah Rububiyyah
Allah.
Dan kaum musyrikin di zaman Rasulullah tidak
mengingkari hal ini, mereka yakin bahwa Allah yang menciptakan langit
dan bumi, mereka yakin bahwa Allah satu-satunya yang memberi rezeki, dan selainnya
dari perbuatan Allah. Penjelasan tentang hal ini akan dibahas secara rinci pada
pembahasan selanjutnya.
Jadi mengakui bahwa Allah yang mencipta, memberi rezeki, Allah
yang mengatur segala perkara, yang menurunkan manfaat dan musibah kepada
manusia, dan selainnya dari perbuatan Allah, dinamakan tauhid Rububiyyah.
KEDUA:
Tauhid Uluhiyah, yakni mengesakan Allah, menyendirikan Allah dalam peribadahan.
Segala jenis ibadah, sepanjang dia disebut ibadah dalam agama, maka ibadah
tersebut hanya diperuntukkan untuk Allah –سبحانه
و تعالى-,
tidak boleh diperuntukkan untuk selain Allah.
Ibadah hanya untuk Allah –سبحانه و
تعالى-, sholat, zakat, haji,
nazar, menyembelih, berharap, memohon pertolongan, memohon perlindungan, minta dilindungi dari
mara bahaya, ini semua adalah bentuk ibadah. Jika dia ibadah, maka harus
diserahkan kepada Allah, tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.
KETIGA:
Tauhid Asma’ wa Sifat, yakni kita mengimani nama-nama dan sifat Allah, yang Allah mensifatkan
dirinya dengan nama dan sifat tersebut, dan Rasulullah juga mensifatkan
Allah dengan nama dan sifat tersebut.
Misalnya diantara nama Allah adalah Al ‘Aliim artinya Yang
Maha Mengetahui, dalam nama ini terkandung didalamnya sifat ilmu, maka dari
keimanan kepada Allah terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah kita
wajib meyakini nama-nama tersebut dan menetapkan sifat yang terkandung di
dalamnya.
Kita wajib meyakininya tanpa menyerupakannya dengan mahlukNya.
Seperti dalam beberapa nash disebutkan bahwa Allah –سبحانه
و تعالى-
mempunyai tangan, kaki, dan mata.
Maka ketika Allah disifatkan dengan sifat ini, apa kewajiban kita?
Bagaimana kita mentauhidkan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah?
Caranya adalah dengan meyakini nama dan sifat tersebut, karena
Allah yang menyebutkannya, Allah yang paling tau tentang diri-Nya dan
Rasulullah yang paling tau tentang Allah, sehingga apabila Allah dan Rasul-Nya
sudah menetapkan, maka dia harus meyakini dan mengimani bahwa Allah disifatkan
dengan sifat-sifat itu sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran Allah dan pasti
tidak sama/serupa dengan mahluk, sebab tidak boleh menyerupakan Allah dengan
mahluk-Nya.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Asy
Syuraa: 11)
Manusia memiliki pendengaran dan penglihatan, tapi apakah sama
antara pendengaran Allah dengan pendengaran manusia? Tidak sama, sebab Allah
tidak boleh diserupakan dengan sesuatu apapun.
Allah itu Maha Tinggi, Maha Sempurna, kewajiban kita meyakini
nama-nama dan sifat tersebut sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al Qur’an
dan Sunnah, kita imani sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan Allah tanpa kita
menolak nama dan sifat tersebut atau menyerupakan Allah dengan mahlukNya.
Kembali kami simpulkan, bahwa tauhid terbagi berapa? Tauhid
terbagi tiga, yakni tauhid Rububiyah, yakni Allah satu-satunya yang bersendirian
dengan perbuatanNya, yang kedua yakni tauhid uluhiyah yakni mengesakan Allah
dalam peribadatan, seluruh jenis ibadah hanya diperuntukkan untuk Allah –سبحانه
و تعالى-,
tidak boleh ada ibadah yang diserahkan kepada Allah, kemudian yang ketiga
adalah tauhid asma’ wa sifat, yakni kita mengimani nama dan sifat Allah yang diterangkan
dalam Al Qur’an dan Sunnah, kita imani hal tersebut dengan penuh pembesaran dan
pemuliaan kepada Allah, kita yakini bahwa Allah disifatkan dengan sifat
tersebut sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan kita yakin bahwa Allah
tidak serupa dengan sesuatu apapun.
Inilah tauhid, seseorang memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah –سبحانه
و تعالى-.
Sumber: Ditranskrip dari dauroh kitab Qawa’idil Arba’. Yang
dibawakan oleh Al Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi -hafizhahullah-